Tuesday, December 3, 2013

MANAJEMEN DAKWAH MAJELIS TABLIGH MUHAMMADIYAH

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Secara kebahasaan kata Dakwah berarti panggilan, seruan atau ajakan. Dakwah berarti mengajak seseorang atau sekelompok orang untuk memeluk agama Islam. Pelaku Dakwah disebut Da’I. Dalam pengertian yang luas dakwah adalah upaya untuk mengajak seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) agar memeluk dan mengamalkan ajaran Islam kedalam kehidupan yang nyata. Selain kata dakwah adapula kata tabligh yang pengertiannya tidak jauh beda dengan dakwah. Namun lebih merujuk kepada proses penyampaian pesan-pesan dakwah kepada sasaran dakwah karena kata tabligh secara bahasa berarti menyampaikan. Sedangkan pelakunya disebut muballigh.
Esensi dakwah dalam Islam adalah mengajak kepada kebaikan, sebagaimana dalam QS. Ali ‘Imron/3:110

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Terjemahannya:

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.




Sedangkan metode dakwah secara umum dan menjadi acuan merujuk pada firman Allah SWT dalam Q.S. an-Nahl/16 : 125.

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Terjemahannya:
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Metode dakwah bi al-hikmah berarti penyampaian dakwah dengan terlebih dahulu mengetahui tujuannya dan mengenal secara benar serta mendalam orang atau masyarakat yang menjadi sasarannya.  Metode dakwah bi al-maw’idhah al-hasanah , memberi kepuasan kepada jiwa orang atau masyarakat yang menjadi sasaran dakwah Islam itu dengan cara-cara yang baik, seperti dengan memberi nasehat, pengajaran, dan contoh teladan yang baik. Metode dakwah bi al-mujadalah bi al-lati hiya ahsan , bertukar pikiran dengan cara-cara terbaik yang dapat dilakukan, sesuai dengan kondisi orang-orang dan masyarakat sasaran. Apapun metode dakwah yang digunakan, dakwah sebagai alat untuk melakukan perubahan individu atau masyarakat, dari  kehidupan yang belum islami menjadi kehidupan yang islami.
Dakwah menurut bentuk, dapat dibedakan menjadi dakwah lisan dan tulisan, sedangkan menurut teknologi, ada yang disebut dakwah konvensional yakni dakwah yang mengandalkan pertemuan langsung atau antar muka antara da’i dengan sasaran dakwah, adapula yang menggunakan media canggih seperti teledakwah, yakni menggunakan teknologi komunikasi media baik cetak maupun elektronik dan e-dakwah, yakni dakwah dengan bantuan internet.
            Dakwah dapat dilakukan secara perorangan maupun berkelompok atau merupakan program suatu organisasi. Salah satu organisasi dengan orientasi dakwah Islam yaitu Muhammadiyah. Muhammadiyah adalah sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia. Nama organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW, sehingga Muhammadiyah juga dapat dikenal sebagai orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Tujuan utama Muhammadiyah adalah mengembalikan seluruh penyimpangan yang terjadi dalam proses dakwah. Penyimpangan ini sering menyebabkan ajaran Islam bercampur-baur dengan kebiasaan di daerah tertentu dengan alasan adaptasi. [1]
Organisasi Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330 H). Persyarikatan Muhammadiyah didirikan untuk mendukung usaha KH Ahmad Dahlan untuk memurnikan ajaran Islam yang dianggap banyak dipengaruhi hal-hal mistik.
Gerakan Muhammadiyah berciri semangat membangun tata sosial dan pendidikan masyarakat yang lebih maju dan terdidik. Menampilkan ajaran Islam bukan sekadar agama yang bersifat pribadi dan statis, tetapi dinamis dan berkedudukan sebagai sistem kehidupan manusia dalam segala aspeknya. Akan tetapi, ia juga menampilkan kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang ekstrem. Sebagai dampak positif dari organisasi ini, kini telah banyak berdiri rumah sakit, panti asuhan, dan tempat pendidikan di seluruh Indonesia.
            Muhammadiyah merupakan organisasi yang bergerak dalam bidang sosial dan keagamaan. Untuk mencapai tujuannya, maka Muhammadiyah melaksanakan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Tajdid yang diwujudkan dalam usaha di segala bidang kehidupan.
Sebagai gerakan sosial keagamaaan, selama ini Muhammadiyah telah menyelenggarakan berbagai kegiatan yang cukup bermanfaat bagi pembinaan individu maupun sosial. Pada tingkat individual, cita-cita pembentukan pribadi mukmim dengan kualifikasi moral dan etis Islam, terasa sangat khas. Gerakan membentuk keluarga sakinah, membentuk jamaah, membentuk qaryah thayyibah, dan akhirnya membentuk ummah, juga mendominasi cita-cita gerakan  sosial Muhammadiyah. Berbagai bentuk amal usaha Muhammadiyah jelas sekali membuktikan hal itu (Kuntowijoyo, 1995 : 85).
Pada hakikatnya, kegiatan-kegiatan dakwah yang dilakukan oleh muhammadiyah tersebut dikelompokkan ke dalam 13 majelis. Majelis-majelis ini  dibentuk sesuai keputusan Muktamar k-46 di Yogyakarta, yaitu:
1.      Majelis Tabligh
2.      Majelis Tarjih dan Tajdid
3.      Majelis Pendidiksn Tinggi
4.      Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah
5.      Mejelis Pendidikan Kader
6.      Majelis Pembina Kesehatan Umum
7.      Majelis Pemberdayaan Masyarakat
8.      Majelis Wakaf dan Kehartabendaan
9.      Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan
10.    Majelis Pustaka dan Informasi
11.    Majelis Hukum dan Hak Asasi Manusia
12.    Majelis Pelayanan Sosial
13.    Majelis Lingkungan Hidup
            Majelis-majelis tersebut dilaksanakan sesuai prinsip-prinsip manajemen karena dalam usaha dakwah yang lebih luas dan rumit dibandingkan dengan kegiatan bisnis dan usaha-usaha lainnya, tidak dapat berjalan secara baik, efektif dan efisien apabila tidak disertai dengan manajemen. Dengan demikian penggunaan prinsip-prinsip manajemen dalam proses  penyelengaraan dakwah merupakan suatu keharusan (Purwanti, 2010).
Manajemen dakwah menurut Munir, yaitu sebuah pengaturan secara sistematis dan koordinatif dalam kegiatan atau aktivitas dakwah yang dimulai dari sebelum pelaksanaan sampai akhir dari kegiatan dakwah (Munir, 2009). Dengan demikian manejemen dakwah ialah suatu perangkat atau organisasi dalam mengolah dakwah agar tujuan dakwah tersebut dapat lebih mudah tercapai sesuai dengan hasil yang diharapkan.
Pengembangan manajemen dakwah melalui pemetaan (mapping) sebagai suatu kebutuhan mendesak dan berkelanjutan, berkaitan dengan permasalahan, potensi maupun solusi dan aksi dakwah yang diperlukan. Dinamika gerakan dakwah (hayawiyatul harakah) sangat terkait dengan kemampuan manajerial para da’I atau pelaku dakwah. Dakwah yang dibutuhkan saat ini dan ke depan, da’i dan mubaligh yang diharapkan bukan hanya sekedar modal semangat dan kemampuan humoris, tetapi juga sangat penting memiliki ketrampilan manajemen dakwah (Yusuf Asry, 2012).
            Muhammadiyah sebagai organisasi yang besar serta mempunyai kegiatan yang kompleks, maka sewajarnya kegiatan dakwah yang dilakukan, dikelompokkan dalam berbagai majelis dan lembaga. Namun dalam makalah ini, penulis secara khusus hanya membatasi manajemen dakwah pada salah satu majelis tersebut, yakni majelis tabligh.









B. Rumusan Masalah
            Berdasarkan uraian latar belakang sebelumnya, maka rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu:
1. Apa yang dimaksud Majelis Tabligh Muhammadiyah?
2. Bagaimana Manajemen Dakwah pada Daerah Binaan Majelis Tabligh Muhammadiyah?
















BAB II
PEMBAHASAN

A. Majelis Tabligh Muhammadiyah
Kehadiran sebuah organisasi sosial keagamaan dengan predikat pembaharu pada dasawarsa kedua abad keduapuluh ini dipandang sebagai satu kemajuan besar di kalangan ummat islam. Tradisi keagamaan  yang dipengaruhi oleh budaya keratin dan sikretis, menyebabkan K.H. Ahmad Dahlan memilih pembaharuan sebagai upaya memurnikan ajaran islam, dengan cara mengembalikannya kepada dua sumber utamanya, yaitu al-Qur’an dan As-Sunnah.
Karena itu persyarikatan ini disebut gerakan tajdid. Salah satu sasaran utamanya adalah mengikis habis bid’ah dan khurafat, yakni praktek agama yang tidak bersumber dari al-Qur’an dan As-Sunnah tetapi diakui/diklaim oleh sementara ummat islam sebagai ajaran islam yang harus dipatuhi. Pemilihan tema pembaharuan ini pada mulanya menimbulkan konflik di kalangan ummat islam. (Rusli Karim, 1986 : 14-15)
Sebagai suatu organisasi Islam, Muhammadiyah mempunyai tugas yang tidak ringan di bidang agama. Apalagi jika ditilik dari sejarah kelahirannya, Muhammadiyah lahir dengan membawa cita-cita pembaruan dalm Islam di Indonesia. Dengan demikian Muhammadiyah bermaksud mengobarkan kembali dinamika Islam, sebagaimana dikandung dalam dalam ajaran agama Islam. Sebab islam adalah suatu agama yang dinamis dan revolusioner. Adapun dinamikanya terletak pada terbukanya pintu ijtihad.
            Oleh karena itu di lapangan agama, perjuangan Muhammadiyah ialah memberantas tradisionalisme, konsevatisme, taqlidisme, mazhabisme dan fikihisme. Sebaliknya menganjurkan ke arah modernisasi, reformisme, dan ijtihadisme.
            Usaha tersebut oleh muhammadiyah dijalankan melalui berbagai cara.  Adakalanya dengan jalan melakukan tabligh, mengadakan kursus-kursus agama, pengajian-pengajian, khutbah-khutbah ataupun pidato-pidato dalam peringatan hari-har besar Islam yang diberikan secara lisan. Akan tetapi selain itu pun dilakukan dengan jalan menulis risalah-risalah pendek, artikel-artikel dalm surat kabar maupun majalah-majalah ataupun menulis buku. Karena itu dalam organisasi Muhammadiyah dikenal adanya majelis Tabligh yang mengurusi soal-soal tabligh, panggilan kepada Islam (Junus Salam, 2009 : 119-121).
Majelis Tabligh
Majelis Tabliqh memiliki rencana strategis untuk: Meningkatkan kuantitas dan kualitas peran Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah kemasyarakatan yang berpengaruh langsung dalam menciptakan masyarakat Islami sebagai perwujudan dari partisipasi aktif Muhammadiyah dalam pembangunan umat dan bangsa untuk mencapai tujuan Muhammadiyah.
Berdasarkan garis besar program, Majelis ini mempunyai tugas pokok untuk:
1. Meningkatkan kuantitas dan kualitas dakwah dalam segala dimensi kehidupan sesuai dengan prinsip gerakan Muhammadiyah.
2. Meningkatkan mutu dan kompetensi mubaligh Muhammadiyah.
3. Memperluas jangkauan dakwah agar mampu menyentuh berbagai level dan jenis kelompok masyarakat.
4. Mengembangkan dan menerapkan dakwah multimedia baik media lokal, maupun media dengan muatan teknologi baru.
5. Melakukan evaluasi dan memperbaiki konsep dan implementasi proyek-proyek dakwah Muhammadiyah, seperti dakwah jamaah, dakwah kultural dan sebagainya, agar kembali berjalan secara efektif.
6. Mengembangkan metode dan praktek pembinaan kehidupan Islami dalam masyarakat.[2]
Dalam perkembangannya Majelis Tabligh kemudian digabungkan dengan dakwah khusus setelah Muktamar 2000. Dakwah khusus ini dilakukan pada masyarakat di daerah tertinggal dan terpencil. Program ini telah dimulai oleh Persyarikatan Muhammadiyah secara terprogram sejak tahun 1975 yang secara teknis dikelola oleh sebuah lembaga khusus yang kemudian dikenal dengan Lembaga Dakwah Khusus (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang berkedudukan di Jakarta. Setelah penggabungan tersebut maka, namanya kemudian menjadi Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus (MTDK).

a) Pengertian
Perubahan paradigma dakwah khusus pasca muktamar 47 tahun 2005 adalah memperluas jangkauan sasaran dakwah khusus tidak hanya terbatas pada masyarakat terpencil dan tertinggal (dahulu istilahnya terasing) serta daerah transmigrasi, akan tetapi menjangkau komunitas masyarakat yang memiliki tipologi khusus yang selama ini belum tergarap dengan program dakwah yang bersifat konvensional.

Dengan rumusan lain dapat dikemukakan bahwa dakwah khusus adalah program dakwah yang ditujukan kepada kelompok-kelompok masyarakat tertentu melalui pendekatan-pendekatan khusus sesuai dengan permasalahan yang dihadapi.


b) Tujuan dan Sasaran Yang Ingin Dicapai
Tujuan dakwah khusus pada hakikatnya sama dengan tujuan Persyarikatan Muhammadiyah, yaitu: ”Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”.
Sedangkan sasaran yang ingin dicapai sesuai dengan yang tertera dalam Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah, yaitu:
1. Kepada yang belum beragama Islam, supaya masuk ke dalam agama Islam.
2. Kepada yang beragama Islam, agar mengamalkan Islam secara sungguh-sungguh dan benar.
Selain dari tujuan dan sasaran sebagaimana tersebut di atas, sesuai dengan fungsi dakwah sebagai sebuah proses perubahan menuju keadaan yang lebih baik, maka dakwah khu-sus harus dirancang dalam sebuah program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan menuju terciptanya kesejahteraan lahir dan batin, dunia dan akhirat.

B. Manajemen Dakwah pada Daerah Binaan Majelis Tabligh Muhammadiyah
Manajemen pelaksanaan dakwah muhammadiyah sesuai dengan prinsip-prinsip tertentu serta dilaksanakan oleh muballigh dengan kompetensi tertentu pula. Selanjutnya diterapkan pada berbagai jenis sasaran dakwah dalam daerah binaan majelis tabligh muhammadiyah.
1) Prinsip Dakwah
Kelas sosial bagi Muhammadiyah, hanya untuk kepentingan dalam objek dakwah saja, bukan untuk membeda-bedakan masyarakat. Namun dalam masyarakat umum, kelas sosial ada dan perlu dipetakan oleh Muhammadiyah. Sebagai gerakan pencerahan, muhammadiyah memiliki tiga dimensi. Hal ini termasuk dalam prinsip dakwah muhamadiyah.
Dimensi pertama adalah Membebaskan manusia dari berbagai hal, bukan hanya tahayul, bid’ah dan khurafat, tetapi juga dari kemiskinan dan kebodohan. Kedua, memberdayakan masyarakat, agar mereka mampu hidup secara mandiri, dan itulah yang akan mendorong sebuah masyarakat berkemajuan, sehingga tercipta khairu ummah. Ketiga, Dengan berbagai perkembangan teknologi, maka Muhammadiyah kemudian melakukan berbagai kemajuan.[3]
2) Kompetensi Muballigh
            Bila seorang berdakwah secara aktif (bukan hanya pasif) maka sebaiknya yang bersangkutan memenuhi kompetensi muballigh. Dalam buku Islam dan Dakwah yang diterbitkan oleh Majelis Tabligh PP Muhammadiyah (1987) dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan kompetensi adalah sejumlah pemahaman, pengetahuan, penghayatan dan perilaku serta keterampilan tertentu yang harus ada pada diri muballigh, agar dia dapat melakukan fungsinya dengan memadai. Kompetensi itu ada yang bersifat substansitif dan ada yang bersifat metodologis.[4]
            Kompetensi substanstif seorang muballigh adalah :
(1) Pemahaman agama islam secara cukup, tepat dan benar;
(2) Memiliki akhlaqul karimah;
(3) Mengetahui perkembangan pengetahuan umum yang relatif luas;
(4) Pemahaman hakekat dakwah;
(5) Mencintai audiens dengan tulus;
(6) Mengenal kondisi lingkungan dengan baik;
(7) Mempunyai rasa ikhlas.


            Sedangkan kompetensi metodologis muballigh adalah:
(1) Kemampuan melakukan identifikasi permasalahan dakwah yang dihadapi, baik tingkat individu maupun tingkat masyarakat;
(2) Kemampuan untuk mendapatkan informasi mengenai ciri-ciri obyektif dan subyektif obyek dakwah serta kondisi lingkungannya;
(3) Kemampuan menyusun langkah perencanaan yang benar-benar dapat diharapkan menyelesaikan problem masyarakat atau menjawab permasalahan dakwah yang ada; dan
(4) Kemampuan untuk merealisasikan perencanaan dalam pelaksanaan kegiatan dakwah.
            Dalam buku Min Akhlaq ad-Dakwahiyah (1411 H), Salman ibn Fahd al-‘Audah, menyebutkan beberapa sifat khusus yang harus dimiliki oleh seorang muballigh di samping akhlak mulia pada umumnya. Akhlak khusus itu adalah shidik, sabar, tawadhu’, ‘adil, lemah lembut dan selalu ingin meningkatkan kualitas amal ibadahnya kepada Allah SWT.
            Lebih dari itu, kunci utama keberhasilan dakwah seorang muballigh adalah satunya kata dan perbuatan. Salah satu sebab utama keberhasilan dakwah Rasulullah SAW adalah karena perbuatan beliau selalu sejalan dengan apa yang dikatakan. Allah SWT mengancam seseorang bila perbuatannya tidak sejalan dengan perkataannya, atau hanya bisa berkata tapi tidak mau berbuat (QS.Ash Shaf 61:2-3)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
Terjemahannya:“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.


 3) Sifat Dakwah Muhammadiyah
1.      Bi Manhaj As Salaf
2.      Dakwah Al Islam – Kaffah
Dalam realitas berfokus pada:
1.      Pendidikan
2.      Pelayanan Sosial
3.      Produksi nilai-nilai baik
4.      Mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya
5.      Baina Tajrid wa Tajdid
6.      Amar Makruf Nahi Mungkar
-   Amar makruf nahi mungkar merupakan perintah bersifat struktural dari atas ke bawah (kekuasaan)
1.Tidak terkait dengan parpol manapun
2.Dakwah bil hikmah
- Bil Hikmah yaitu bin nash wal ‘aqli
      - Dakwah bukan paksaan (QS.2:256) فِي الدِّينِ لا إِكْرَاهَ
- Dakwah dengan keteladanan
- Dakwah bukan induksi psichotrofik, harus dengan perasaan “sadar”, presentasi kebenaran rasional, dakwah bukanlah kerja menyihir, menimbulkan ilusi, menghibur dan induksi psikotropik lainnya.
- Kepada seluruh manusia, muslim dan non muslim
- Dakwah adalah pemahaman rasional, terbuka terhadap kritik, tidak taklid mengikuti nenek moyang.
      - Dakwah mengingatkan manusia akan fitrahnya
4) Daerah Binaan Dakwah

·          Daerah Terpencil dan Tertinggal
Tipologi daerah terpencil dan tertinggal sebagai berikut:
a. Terpencil, artinya desa-desa yang secara geografis masih terisolir, jauh dari jangkauan transportasi umum, seperti desa-desa atau kecamatan yang terletak di pedalaman.
b. Tertinggal, artinya daerah-daerah yang masih belum tersentuh perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kualitas SDM dan tingkat kehidupan sosial ekonominya masih sangat rendah. Daerah dengan tipologi ini masih sangat banyak jumlahnya, terutama di wilayah Indonesia Timur dan beberapa daerah di belahan lain di pelosok Indonesia.
Tujuan :
a. Menumbuhkan kecintaan dan semangat masyarakat dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam.
b. Memberikan motivasi agar masyarakat membuka diri untuk menerima berbagai perubahan untuk meningkatkan kese-jahteraan hidup lahiriyah dan batiniyah.

·         Daerah Rawan Pemurtadan
Masyarakat terpencil dan tertinggal dengan indikasi utamanya kemiskinan dan kebodohan dan masih jauh dari berbagai kemajuan peradaban, pengetahuan dan informasi pada giliran nya dapat juga menjadi daerah rawan pemurtadan, karena pada masyarakat yang secara sosial ekonomis hidup di bawah garis kemiskinan menjadi lahan empuk bagi missionaris untuk memur-tadkan mereka.
Tujuan :
a. Memantapkan aqidah umat agar tidak mudah terpengaruh dengan gerakan pemurtadan pihak non muslim.
b. Mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui usaha peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dalam berusaha.
c. Melakukan advokasi terhadap usaha-usaha yang dapat me-rugikan kepentingan umat Islam.



·         Daerah Minoritas Islam
Di beberapa daerah minoritas muslim di Indonesia, seperti di Bali, Nusa Tenggara (NTT), dan beberapa daerah kabupaten di propinsi-propinsi di wilayah Indonesia Timur, Mentawai Sumatera Barat, dan beberapa kabupaten di Sumatera Utara seperti Pulau Nias, Tarutung dan Karo Sumatera Utara umat Islam sering kali menghadapi kesulitan dalam melaksanakan ibadah dan kewajib-an keagamaan lainnya sesuai tuntunan Alquran dan Assunnah karena berbenturan dengan kondisi lingkungan yang mayoritas non muslim. Keadaan tersebut juga sangat berpengaruh terha-dap penyelenggaraan pembinaan umat melalui kegiatan tabligh dan dakwah, karena selain dari faktor lingkungan yang tidak kondusif, faktor kekurangan tenaga dai atau muballigh dan ke-mampuan finansial yang sangat terbatas menyebabkan gerakan dakwah dan pembinaan umat menjadi lamban.
Tujuan :
a. Memelihara kecintaan dan semangat masyarakat dalam mempertahankan aqidah Islam.
b. Membantu masyarakat untuk membuka akses dengan kelompok masyarakat Islam di daerah lain.
c. Melakukan advokasi terhadap usaha-usaha yang dapat merugikan kepentingan umat Islam.

·         Daerah Transmigrasi
Secara umum kondisi masyarakat transmigrasi di berbagai daerah masih menghadapi tantangan dan permasalahan yang sulit dan berat, antara lain dalam hal:
a. Keuangan atau modal pengembangan usaha
b. Pemasaran hasil pertanian
c. Sarana dan prasarana transportasi
d. Sarana pendidikan
e. Fasilitas ibadah

Selain keadaan ekonomi, pendidikan dan sarana ibadah yang masih terbatas, persoalan lain yang cukup berpengaruh adalah terjadinya benturan budaya dan gesekan kepentingan sebagai konsekwensi logis dari kemajemukan masyarakat trans-migrasi dilihat dari sudut etnis dan agama. Tidak jarang juga terjadi benturan kepentingan masyarakat transmigrasi sebagai pendatang dengan masyarakat pribumi. Keadaan tersebut masih terdapat di sebahagian besar daerah-daerah transmigrasi di Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera.
Keadaan ekonomi masyarakat muslim di daerah transmigrasi yang masih berada di bawah garis kemiskinan itu pula kemu-dian menjadi celah dan peluang bagi pihak non muslim untuk melakukan gerakan pemurtadan.
Tujuan :
a. Membantu masyarakat dalam memperoleh bimbingan kehidupan beragama yang lebih baik.
b. Membantu dan mendorong masyarakat membangun kerja-sama dalam bidang ekonomi melalui kelompok usaha tani dan mendirikan lembaga keuangan mikro syariah (koperasi).

·         Masyarakat Korban Bencana
Persoalan yang dihadapi oleh masyarakat korban bencana bukanlah sekedar hancurnya sarana dan prasarana ekonomi, infra struktur pemerintahan, fasilitas pendidikan dan ibadah serta kehilangan lapangan usaha yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian, kehilangan anggota keluarga yang selama ini menjadi tulang punggung rumah tangga, begitu juga anak-anak yang menjadi tumpuan harapan masa depan, akan tetapi mereka juga menderita goncangan kejiwaan berupa depresi, trauma masa lalu, stress dan lain sebagainya.
Daerah korban bencana yang relatif kehidupan sosial ekonomisnya cukup parah, apalagi sebahagian besar masya-rakatnya belum dapat melakukan aktifitas ekonomi sebagai mana mestinya disebabkan seluruh harta benda dan lapangan usaha yang mereka miliki sebelumnya telah hancur berantakan, ternya-ta menjadi incaran para missionaris kristen untuk melakukan gerakan pemurtadan seperti fakta dan data yang ditemukan di berbagai wilayah Aceh yang terkena bencana tsunami.
Maka program dakwah yang dirancang secara khusus juga merupakan salah satu langkah strategis untuk memperbaiki kem-bali kondisi sosial masyarakat korban bencana.
Daerah korban bencana yang patut mendapat prioritas, diantaranya adalah wilayah pantai barat propinsi Aceh, antara lain mulai dari Aceh Utara sampai ke Calang dan Meulaboh Aceh Barat, termasuk juga Simelue dan Pulau Nias Sumatera Utara.
Tujuan :
a. Pemantapan aqidah dan penguatan iman masyarakat agar bebas dari penyakit depresi, stress dan trauma.
b. Melakukan advokasi agar terhindar dari usaha-usaha pemur-tadan yang dilakukan oleh pihak non muslim.
c. Membantu dan mendorong masyarakat untuk melakukan akti-fitas usaha ekonomi dan normalisasi kehidupan sosial.

·         Komunitas Adat
Dahulu dikenal dengan istilah masyarakat terasing, seperti masyarakat pedalaman Irian yang masih akrab dengan koteka dan berbagai symbol budaya dan adat istiadat yang secara kental mereka laksanakan sebagai pola hidup dan sekaligus keperca-yaan dengan seperangkat kegiatan ritual yang menyatu dengan kehidupan mereka sehari-hari. Di pedalaman Kalimantan ada suku Dayak, suku Badui di propinsi Banten. Ada suku Kubu di propinsi Jambi, Talang Mamak dan Sakai di Riau, dan Suku Laut di Kepulauan Riau.
Tipologi komunitas adat tersebut antara lain :
a. Ketat dengan adat istiadat yang mereka miliki.
b. Sebagian besar mereka belum menganut salah satu agama.
c. Mata pencaharian bertani, nelayan dan hidup berpindah-pindah (nomaden).
d. Belum tersentuh oleh berbagai kemajuan pengetahuan dan teknologi moderen.
e. Sulit untuk menerima perubahan
Dakwah di kalangan komunitas adat memerlukan strategi dan pendekatan-pendekatan khusus dengan mempertimbang kan faktor-faktor sosial budaya masyarakat adat setempat dan kemampuan dalam memanfaatkan symbol-simbol budaya mereka sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan dak-wah. Pemahaman dan kemampuan untuk berbicara dengan bahasa dan budaya mereka adalah sesuatu yang menjadi sangat penting dalam melaksanakan tugas-tugas dakwah di kalangan komunitas adat tersebut.
Tujuan :
a. Berusaha untuk mengenalkan berbagai perubahan dan kema-juan yang terjadi di sekitar mereka.
b. Memberikan pengetahuan dan bimbingan dalam melaksana kan aktifitas kehidupan sehari-hari.

·         Penyandang Patologi Sosial
Berbeda dengan sasaran dakwah khusus yang lain, penyandang patologi sosial adalah masyarakat yang tinggal di perkotaan dengan berbagai penyakit sosial yang berkembang, mulai dari pelacuran, homoseksual, perjudian, minuman alkohol dan penggunaan narkoba dan zat-zat adiktif lainnya.
Mereka biasanya tinggal di pinggiran-pinggiran kota yang padat penduduk, kumuh dan miskin. Ada juga yang tinggal di pemukiman khusus yang biasanya banyak terdapat di kota-kota pelabuhan dan kota-kota besar lainnya.
Berdakwah di kalangan masyarakat dengan berbagai penyakit sosial memang diperlukan strategi khusus dan kerja-sama yang intensif dengan pihak-pihak terkait, seperti departe-men sosial, kepolisian dan Badan Narkotika serta LSM-LSM lainnya yang konsern terhadap berbagai permasalahan penyakit sosial.
Tujuan :
a. Berusaha membebaskan masyarakat dari berbagai prilaku kehidupan sosial yang merugikan.
b. Memberikan bimbingan kehidupan beragama dengan meng-hidupkan suasana ibadah di kalangan masyarakat.[5]
Secara singkat proses dakwah dapat dilukiskan seperti terlihat pada tabel berikut[6]:
  KONDISI PRA DAKWAH
PROSES DAKWAH (MANAJEMEN DAKWAH)
KONDISI PASCA DAKWAH (ISLAMI)
1.      Kafir
2.      Syirik
3.      Ingkar
4.      Maksiyat
5.      Otoriter
6.      Khianat
7.     Kesewenang-wenangan
8.      Egois-Ananiyah
9.      Intoleran
10.  Tidak sopan
11.  Individual-kesukuan
12.  Sombong
13.  Lemah
14.  Miskin
15.  Tidak sehat
16.  Tidak jujur
17.  Kasar
18.  Tak menghargai waktu
      19.  Konflik
20.  Chaos
21.  Tidak terdidik
22.  Statis
23.  malas
24.  Boros
25.  Kotor-jorok
26.  dst………
1. Penelitian dan pendataan
2. Perencanaan
3. Pelaksanaan
4.Monitoring dan Evaluasi
 Maliputi :
  1. Subjek
  2. Objek
  3. Materi
  4. Metode
Media dan alat
1.      Iman
2.      Tauhid
3.      Patuh
4.      Taat
5.      Musyawarah
6.      Amanat
7.      Adil
8.     Kebersamaan-Solider
9.      Toleran
10.  Sopan
11.  Jamaah
12.  Rendah hati
13.  Kuat
14.  Cukup-kaya
15.  Sehat
16.  Jujur
17.  Halus
18. Menghargai waktu/disiplin
19.  Damai
20.  Tertib-teratur
21.  terdidik
22.  Dinamis
23.  Rajin
24.  Hemat-efisien
25.  Bersih
26.  dst……


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Organisasi Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330 H). Persyarikatan Muhammadiyah didirikan untuk mendukung usaha KH Ahmad Dahlan untuk memurnikan ajaran Islam yang dianggap banyak dipengaruhi hal-hal mistik.
Manajemen pelaksanaan dakwah muhammadiyah sesuai dengan prinsip-prinsip tertentu serta dilaksanakan oleh muballigh dengan kompetensi tertentu pula. Selanjutnya diterapkan pada berbagai jenis sasaran dakwah dalam daerah binaan majelis tabligh muhammadiyah. Daerah binaan tersebut meliputi:
·         Daerah Terpencil dan Tertinggal
·         Daerah Rawan Pemurtadan
·         Daerah Minoritas Islam
·         Daerah Transmigrasi
·         Masyarakat Korban Bencana
·         Komunitas Adat
·         Penyandang Patologi Sosial



[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammadiyah diakses 11 januari 2013
[2]http://www.muhammadiyah.or.id/id/content-201-list-majelis-lembaga.html

[3]http: //www. republika. co. id/ berita /dunia -islam/ islam-nusantara/12/  07/30/ m7y1m2-inilah-peta-dakwah- muhammadiyah diakses 21 Januari 2013
[4]http://kaltim.muhammadiyah.or.id/artikel-metodelogi-dakwah-muhammadiyah--detail-144.html. diakses 20 Januari 2013
[5] http://majelis-tabligh.blogspot.com/ diakses 20 Januari 2013
[6]http://kaltim.muhammadiyah.or.id/artikel-metodelogi-dakwah-muhammadiyah--detail-144.html. diakses 20 Januari 2013

UAS Manajemen dan Etika Komunikasi Dakwah

1.  Jelaskan Axiologi (aksiologi) dalam Komunikasi Dakwah
à        Aksiologi Komunikasi dakwah merupakan landasan filosofis bagi bangunan urutan nilai kegunaan ilmu komunikasi dakwah dan merupakan salah satu unsur filosofis keilmuan yang bernilai sangat vital dalam membangun konstruksi ilmu komunikasi dakwah. Di dalam Islam, pada prinsipnya semua ilmu, termasuk ilmu komunikasi dakwah, diharapkan dapat dijadikan sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Allah, harus secara efektif dapat membantu mengembangkan masyarakat Islam dan merealisasikan tujuan-tujuannya, harus berguna bagi orang lain, dan dapat memecahkan berbagai problem masyarakat manusia. Dengan demikian, selama ilmu itu tidak menjadi alat bagi thaghut (selain-Allah atau anti-Allah), merupakan alat-alat pencerahan dan berguna bagi kemanusiaan.
Secara detail nilai kegunaan atau tujuan komunikasi dakwah  akan dijelaskan dengan terlebih dahulu membahas tujuan komunikasi. Gordon I. Zimmerman membagi dan merumuskan dua kategori besar tujuan komunikasi. Pertama, yaitu untuk menyesaikan tugas-tugas yang penting bagi kebutuhan manusia. Misalnya untuk memberi makan dan pakaian untuk diri sendiri, memuaskan penasaran pada diri manusia akan lingkungan dan menikmati hidup. Kedua,  tujuan komunikasi adalah menciptakan dan memupuk hubungan dengan orang lain. Dengan demikian, memiliki fungsi isi, yang melibatkan pertukaran informasi yang kita perlukan untuk menyelesaikan tgas dan informasi mengenai bagaimana kita dengan orang lain.
Sedangkan secara khusus, tujuan dakwah itu dapat dibedakan menjadi beberapa segi, yaitu sebagai berikut;
a. Dari Segi Mitra Dakwah
- Tujuan perseorangan, yaitu terbentuknya prbadi muslim dengan iman yang kuat, berperilaku sesuai dengan hukum-hukum Allah Swt, dan berakhlak karimah
- Tujuan untuk keluarga, yaitu terbentuknya keluarga bahagia, penuh ketentraman dan cinta kasih antara anggota keluarga.
- Tujuan untuk masyarakat, yaitu terbentuknya masyarakat sejahtera yang penuh dengan suasana keislaman.
- Tujuan umat manusia di seluruh dunia, yaitu terbentuknya masyarakat dunia yang penuh dengan kedamaian dan ketenangan dengan tegaknya keadilan, ersamaan hak dan kewajiban, tidak adanya diskriminasi dan eksploitasi dan saling tolong-menolong dan menghormati.
b. Dari Segi Pesan
- Tujuan akidah, yaitu tertanamnya akidah yang mantap di setiap hati manusia sehingga keyakinan tantang ajaran-ajaran islam tidak lagi dicampuri dengan rasa keraguan.
- Tujuan Hukum, yaitu terbentuknya pribadi muslim yang luhur dengan sifat-sifat yang terpuji dan bersih dari sifat tercela.
            Dengan terpenuhinya persyaratan untuk terjadinya suatu komunikasi, seperti diungkapkan di atas, disimpulkan bahwa dakwah itu sendiri merupakan sebuah proses komunikasi. Dalam hal ini Jalaluddin Rakhmat, mengungkapkan tujuan umum dakwah dalam konteks komunikasi adalah sebagai berikut:
- Memberitahukan [informatif]. Ditujukan untuk menambah pengetahuan pendengar. Komunikasi diharapkan memperoleh penjelasan, menaruh minat, dan memiliki pengertian tentang persoalan yang dibicarakan.
- Mempengaruhi [persuasif]. Ditujukan agar orang mempercayai sesuatu, melakukannya, atau terbakar semangan atau antusiasismenya. Keyakinan, tindakan dan semangat adalah bentuk reaksi yang diharapkan.
- Menghibur  [rekreatif]. Bahasa yang disampaikan enteng, segar dan mudah dicerna. Diperlukan otak yang baik untuk membuat humor yang baik. Perhatian, kesengangan, dan humor adalah reksi pendengar yang diharapkan disini.

2. Uraikan tentang Nilai dan bagaimana pendapat saudara tentang teori Bebas Nilai (Value Free) dalam ilmu dan hubungannya dengan Komunikasi Dakwah
à        Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 1004)  kata “nilai” mempunyai beberapa arti, salah satunya adalah “sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan.” Kata “nilai” untuk bahasa Inggris adalah value. Dalam Oxford Advanced Learner’s Dictionary edisi keenam (2000: 1493) kata value juga mempunyai beberapa arti, salah satunya adalah “beliefs about what is right and wrong and what is important in life”. (kepercayaan atau keyakinan mengenai apa yang benar dan salah, serta apa yang penting dalam kehidupan).
Pengertian di atas sejalan dengan yang dijelaskan oleh Harold Kincaid dkk. (2007: 10), bahwa yang dimaksud “nilai” adalah berbagai hal yang oleh individiu-individu dipandang berharga atau mesti dipromosikan, dikembangkan dan direalisasikan.  Dalam pengertian ini, “nilai” tidak hanya mengenai nilai moral, etis, atau politis, tapi juga nilai epistemis.
Paradigma ilmu bebas nilai (value free) mengatakan bahwa ilmu itu bersifat otonom yang tidak memiliki keterkaitan sama sekali dengan nilai. Bebas nilai artinya setiap kegiatan ilmiah harus didasarkan pada hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan menolak campur tangan faktor eksternal yang tidak secara hakiki menentukan ilmu pengetahuan itu sendiri. Penganut paradigma ini menginginkan bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai, baik secara ontologis maupun aksiologis. Dalam hal ini, ilmuan hanyalah menemukan pengetahuan dan terserah kepada orang lain untuk mempergunakannya, apakah akan dipergunakan untuk tujuan yang baik atau sebaliknya.
Jadi, bebas nilai sesungguhnya adalah tuntutan yang ditujukan pada ilmu agar keberadaannya dikembangkan dengan tidak memperhatikan nilai-nilai lain di luar ilmu itu sendiri, artinya tuntutan dasar agar ilmu dikembangkan hanya demi ilmu itu sendiri tanpa pertimbangan politik, agama maupun moral.
Sementara itu, dalam pandangan ilmu yang bebas nilai ini jika dihubungkan dengan komunikasi dakwah maka keterkaitannya adalah sebagai berikut. Pada dasarnya  kata dakwah (دعوة ) artinya: doa, seruan, panggilan, ajakan, undangan, dorongan dan permintaan. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa secara etimologis ilmu komunikasi dakwah adalah bebas nilai, artinya bisa mengajak kepada kebaikan atau ke jalan Allah  bisa juga mengajak kepada kemungkaran, jalan syetan atau berbuat maksiat seperti apa yang telah didramatisir oleh Zulaiha dengan mengajak Yusuf berbuat maksiat sebagaimana Firman Allah SWT:

فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ
Artinya: “Maka dia mengadu kepada Tuhan-Nya, bahwasannya  aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah aku”. [ Q.S.Al-Qamar/54.10]



وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Artinya: “ Allah menyeru [manusia] ke- Darussalaam [Surga], dan memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus [Islam][Q.S. Yunus/10.25]

      أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ
 …...  Artinya: “ Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah SWT mengajak ke Surga “,,,,,. [Q.S.Al-Baqarah/2.221].

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ   
                                                     
Artinya: “ Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk [memenuhi keinginan mereka], dan tentulah aku masuk orang-orang yang bodoh “.[Q.S.Yusuf/12.33].

Dengan demikian menurut saya, ilmu ataupun kegiatan komunikasi dakwah ini berlaku teori bebas nilai (value free). Yakni aplikasinya bergantung pada motif pendakwah sebagai the man behind ilmu tersebut

3. Jelaskan Perbedaan antara Moral, Etika dan Ahlak dalam aplikasi Komunikasi Dakwah
à        Kata etika berasal dari kata “ethos” (bahasa Yunani) dalam bahasa Inggris “ethics” yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat (custom). Ethic (bahasa Inggris) berarti etika, tatasusila, Ethical berarti etis, pantas, layak, beradab, susila. Sebagai suatu subyek etika akan berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya salah atau benar, buruk atau baik. Etika adalah refleksi dari apa yang disebut dengan “self control“ karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok itu sendiri.
Etika dan moral hampir sama pengertiannya tetapi, dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan. Moral atau moralitas digunakan untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika digunakan untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku. Etika sangat diperlukan dalam melaksanakan dakwah kepada masyarakat karena inti gerakan dakwah adalah merubah masyarakat menjadi lebih baik dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangannya dalam konsep ‘amar ma’ruf wa nahi munkar.
Dalam Islam sedikit berbeda dengan akhlak, ini adalah suatu kata yang sering dikaitkan dan diartikan nilai-nilai moral yang tumpuannya adalah ajaran Islam. Jadi istilah akhlak tersebut lebih mengandung unsur islaminya dengan acuan utamanya al-qur’an dan hadist.
Sebagaimana dijelaskan oleh Din Syamsudin dalam bukunya Mafri Amir yang berjudul Etika Komunikasi Massa dalam Pandangan Islam melihat bahwa etika terutama dalam perspektif Islam bisa dipahami secara sempit dan juga secara meluas. Dalam pengertian sempit etika sering dipahami dalam hal-hal yang evaluatif, menilai baik dan buruk tetapi, kalau dikaitkan dengan Islam yang menganjurkan istilah akhlak maka, etika dipahami secara lebih luas tidak hanya sekedar etis dalam pengertian faktor-faktor evaluatif memberikan penilaian tadi, tetapi juga mengandung pengertian etos yakni hal-hal yang bersifat motivatif (mendorong).
Karena itu, akhlak dalam pengertian ini meliputi etik dan etos karena, dipahami secara lebih luas luas. Quraish Shihab menjelaskan bahwa, kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan.

Hubungannya Dalam Aplikasi Komunikasi Dakwah

Rasul adalah sebagai contoh dan sumber etika. Sumber etika dan ahlak rasul adalah al-Qur’an nabi sehingga ketika istri nabi ditanya ”Apa akhlaq nabi”?. Istri nabi menjawab : ”Akhlak nabi adalah al-Qur’an”. Al-Quran adalah kitab dakwah di dalamnya Allah menerangkan segala yang diperlukan oleh manusia termasuk didalamnya adalah etika dakwah itu sendiri.
Akhlak berkaitan erat dengan moral. Sebagai sumber moral, al-Qur’an memiliki kandungan yang menjelaskan kriteria baik-buruknya sesuatu perbuatan. Sesudah Al-Qur’an kemudian sunnah. Kedua dasar itulah yang menjadi landasan atau sumber ajaran Islam secara keseluruhan sebagai pola hidup dan menetapkan mana yang baik dan buruk di dalam berkomunikasi untuk menjalankan aktifitas dakwah.
Seseorang yang mempunyai etika yang baik apabila ia berdakwah ia akan berkomunikasi dengan mad’u nya secara baik pula dengan penyampaian sesuai situasi dan kondisi mad’u, lingkungan, dan keadaan sekitar area dakwahnya.
Oleh karena itu etika sangat penting dalam proses aktifitas dakwah dan komunikasi. Sebab etika adalah standar nilai-nilai yang harus dijadikan acuan dalam berbuat, bertindak dan berperilaku.
Secara sederhana orang yang tidak memahami dan mematuhi aturan yang berlaku dinilai tidak mempunyai etika dalam tindak tanduknya. Sebaliknya orang yang senantiasa tunduk kepada norma yang berlaku dapat dikatakan orang yang mempunyai etika. Tanpa ada suatu komunikasi yang baik dalam berdakwah maka seseorang itu dinyatakan tidak mempunyai etika yang cukup baik pula. Seorang pendakwah terlebih dahulu harus mempunyai etika yang baik dan komunikasi yang baik pula sebagai pendukungnya.

4. Dalam melakukan penafsiran ada 3 komponen secara integral harus dimanfaatkan : Fakta, Teori dan Value (nilai), coba jelaskan hubungan ketiga
à        Fakta (data objektif). Ini menampakkan diri pada gejala-gejala yang berlalu lalang dihadapan kita, tampil sebagai realitas indrawi dalam kesadaran kita, untuk selanjutnya ke semua itu ditatanya dalam kategori-kategori apriori sebagai landasan berpijak agar hasil penafsiran bukan sesuatu yang tanpa dasar.
Teori. Teori merupakan perangkat/rangkaian konsep yang langsung membahas cara untuk mendapatkan pengetahuan yang dalam kegiatan keilmuwan disebut atau tidak, bersumber ke arah data objektif dengan teori sebagai dasar dan kerangka dalam memahami data objektif. Kita akan mendapatkan hubungan causa antara satu dengan yang lain dan lebih jauh kita akan dapat merekayasa data objektif, secara artifisial.
Value (nilai). Nilai adalah suatu preskretif (normative/ yang seharusnya) untuk kita jadikan tolak ukur agar suatu kesimpulan tidak saja menunjukkan arti maknanya dengan melihat komponen secara utuh (integral), maka suatu hasil penafsiran di satu pihak akan menunjukkan sesuatu yang maknawi, di lain pihak sesuatu penafsiran itu akan terhindari dari subjektifikasi, sebab apabila dengan data objektif, tanpa teori dan nilai, maka proses penafsiran itu akan terjerumus ke dalam kekaburan, tanpa mengalami kaitan, sebab dan ke arah mana.
Penafsiran itu hanya data objektif dan teori saja, tanpa value, maka penafsiran akan hanya empirisme dan berhenti pada dataran teoritis saja, kehilangan idealisme dan kehilangan gairah serta prespektif ke depan. Teori dan nilai saja, tanpa dukungan data objektif, penafsiran akan didorong pada konsumsi penafsiran yang rasionalistik, empiristik, steril dan kehilangan nilai realistiknya. Data objektif dan nilai saja tanpa dukungan teori, maka penafsiran akan didorong pada kritisisme atau rasionalisme dan hasilnya tidak dapat dipertanggungjawabkan nilai ilmiahnya.

5. Bagaimana Strategi Pengembangan Keilmuwan Ilmu Komunikasi Dakwah (khususnya Etika komunikasi Islam)
à        Kehadiran komunikasi dakwah dapat dipandang sebagai perwujudan suatu perwujudan respons kalanagan disiplin dakwah untuk menyumbang dan menerapkan ilmunya dalam rangka ikut ambil bagian dalam menjawab tantangan dan tuntutan dakwah. Respon tersebut analog dengan dengan tumbuhnya kontribusi dari berbagai disiplin ilmu yang lain, yang juga mengkhususkan diri bagi kepentingan perkembangan dakwah. Seperti ilmu dakwah, psikologi dakwah, manajemen dakwah, filsafat dakwah, dsb. Semuanya memiliki keterkaitan secara sinergis dan komplemen dalam perkembangan dakwah.
            Keilmuan komunikasi dakwah boleh dikatakan masih prematur dibandingkan dengan keilmuan-keilmuan lainnya. Untuk itu, perkembangannya seperti ilmu-ilmu lainnya dalam kelompok dakwah akan masih terus membutuhkan kajian dan penelitian secara kontinu dan mendalam guna menemukan bentuk yang sempurna. Dan sebagaimana dengan ilmu-ilmu lainnya yang memilk sifat progresif, komunikasi dakwah akan terus mengalami perkembangan mengikuti perkembangan peradaban manusia.
Dalam pengembangan komunikasi dakwah sebagai ilmu terasa sangat tidak mungkin tanpa dibarengi dengan adanya penemuan dan pengembangan kerangka teori dakwah. Tanpa teori dakwah maka apa yang disebut dengan ilmu dakwah tidak lebih dari sekedar kumpulan pernyatan normatif tanpa memiliki kadar analisa atas fakta dakwah atau sebaliknya hanya merupakan kumpulan pengetahuan atas fakta sehingga mandul untuk memandu pelaksanaan dakwah dalam menghadapi masalah yang kompleks.
Dengan ditemukannya teori – teori dakwah yang telah menyebabkan keberhasilan dakwah masa lalu( dengan penelitian reflektif- penafsiran maudhu’i ) dapat di uji kembali relevensi teori dengan fakta dakwah yang ada pada saat sekarang (dengan metode riset dakwah partisipatif) dan kemungkinan yang akan terjadi dimasa depan (dengan metode riset kecenderungan gerakan dakwah).
Sedangkan menyangkut etika komunikasi islam, tentunya meiliki peranan yang besar dalam mempersiapkan kader da’I yang etis professional. Paradigmanya memang didesain untuk melahirkan kader-kader da’i yang memilki nilai-nilai moral yang beti-betul cerminan dari dirinya, tidak hanya di depan mad’unya melainkan sudah tertanam kuat dalam dirinya. Selain itu profesionalisme juga terlihat dari perilaku dan apa yang ada di dalam dirinya, setelah seorang da’i memiliki nilai-nilai etis, tentnya akan melahirkan profesionalisme. Jika seorang da’i memiliki dua sifat ini: etis dan professional, tentunya kegiatan dakwah akan berjalan secara optimal.

Oleh karena itu, strategi pengembangannya dakwah, diantaranya adalah mengidentifikasi kebutuhan pelatihan da’i, membantu rasa percaya diri da’i, membuat penjelasan yang berarti, membuat uraian pelatihan untuk memudahkan dalam pembelajaran, memberikan kesempatan untuk berpraktik secara umpan balik, memeriksa apakah program pelatihan itu berhasil dan mendorong aplikasi dalam kerja dakwah.

ANALISIS KASUS ADI BING SLAMET VS EYANG SUBUR

Pembangungan dan Perusakan Hubungan
1. Pertumbuhan Hubungan.
            Terdapat beberapa teori yang menjelaskan mengapa kita mengembangkan hubungan,. Empat teori ini dibahas dalam pertumbuhan hubungan, yaitu Teori pengurangan Ketidakpastian, Teori Penetrasi Sosial, Teori Hubungan dialektika, dan Teori Aturan. Dari keempat teori tersebut, Teori Aturan dianggap paling sesuai dengan kasus Adi vs Subur ini.
Teori Aturan menggambarkan interaksi hubungan diatur oleh serangkaian aturan kompleks yang disetuju untuk diikuti. Ketika aturan diikuti, kaitan erat yang dipertahankan, ketika mereka rusak, hubungan mengalami kesulitan dan mungkin memburuk atau bahkan larut.
            Status Adi sebagai orang yang “berguru” pada Subur dikenakan berbagai aturan, seperti Adi diminta untuk mensyariatkan berbagai hal. Mulai cuci muka pakai air garam dan meminum air garam, kopi pahit dan kopi manis setiap hari rabu, sampai dilarang shalat, dekat dengan ulama serta menanyantuni anak yatim dan fakir miskin. Akhirnya Adi pun merasa ada yang aneh dengan aturan-aturan tersebut karena merasa jauh dari Allah. Hal inilah yang menyebabkan hubungan mereka mengalami kesulitan dan kasusnya berlarut-larut.
Alasan-Alasan untuk Pengembangan Hubungan: Empat alasan umum untuk pengembangan hubungan adalah: mengurangi kesepian, mendapatkan rangsangan, mendapatkan pengetahuan diri, dan memaksimalkan kesenangan  dan meminimalkan penderitaan.
            Awalnya Adi beralasan membutuhkan sosok ayah, mungkin merasa sepi dengan tidak adanya sosok tersebut. Ia pun diminta bertemu sehingga Adi datang ke rumah Subur di kawasan Tanjung Duren, Pasar Patra, Jakarta Barat. Setelah itu mendapatkan rangsangan setelah mendengar dan membuktikan Subur pandai meramal, seperti tragedi tsunami dan gedung WTC. Hal inilah yang membuatnya percaya dan melanjutkan hubungan dengan Subur dengan harapan memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan penderitaan.
2. Perusakan Hubungan
Bagian yang lain dari pengemabangan hubungan adalah perusakan, menurunnya hubungan dan kemungkinan terjadinya pemutusan hubungan. (Duck,1982). Disini kita mengamati beberapa sebab utama yang menjadi hakikat dari perusakan hubungan, serta perubahan komunikasi yang terjadi selama perusakan hubungan.
Hakikat Perusakan Hubungan: Yang dimaksud dengan perusakan hubungan adalah melemahnya ikatan yang mempertalikan orang bersama. Perusakan hubungan dapat terjadi secara berangsur atau mendadak, sedikit demi sedikit, atau ekstrim.
Perusakan Berangsur dan Mendadak: Proses perusakan dapat terjadi berangsur atau mendadak. Murray Davis (1973) dalam Intimate Relations, menggunakan istilah passing awway untuk perusakan berangsur dan sudden death untuk perusakan yang mendadak. Contoh perusakan berangsur (passing way) terjadi bila salah satu pihak mengembangkan hubungan dekat dengan pacar baru dan hubungan baru ini perlahan-lahan menyingkirkan pacar lama. Contoh perusakan mendadak (sudden death) terjadi bila salah satu atau kedua pihak melanggar sesuatu yang sangat penting bagi hubungan itu (misalnya kesetiaan). Sebagai akibatnya, kedua pihak menyadari bahwa hubungan itu harus diakhiri.
            Hubungan antara Adi Bing Slamet dan Eyang Subur dapat dikatakan rusak secara mendadak atau sudden death karena  setelah lama “berguru” pada Subur, akhirnya Adi sadar dan merasa adanya suatu keganjilan dari aturan-aturan yang ditetapkan oleh Sobur. Akhirnya Adi melanggar aturan-aturan tersebut dan ekmbali mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Beberapa Sebab Perusakan Hubungan
            Sebab-sebab perusakan hubungan sama banyak dengan jumlah orang yang yang terlibat di dalamnya, tetapi kita dapat menyebutkan beberapa sebab utama. kita mulai dengan melihat beberapa alasan berkembangannya hubungan dan mengamati bagaimana faktor-faktor ini dapat menyebabkan perngrusakan hubungan. kemudian kita melihat faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan kerusakan hubungan.
1.      PEMBUBARAN HUBUNGAN
            Beberapa hubungan tentu saja kadang-kadang ada yang tidak cukup hanya untuk menahan individu bersama-sama. kadang-kadang ada masalah yang tidak dapat diselesaikan. kadang-kadang biaya terlalu tinggi dan penghargaan terlalu sdikit, atau hubungan diakui sebagai merusak dan melarikan diri adalh satu-satunya alternatif, hubungan yang berakhir. Anda dihadapkan dengan dua masalah umum: bagaimana untuk mengakhiri hubungan, dan bagaimana untuk menangani maslah yang tak terelakan yang menyebabkan hubungan akhiran.
Strategi Pelepasan
            Ketika anda ingin keluar dari sebuah hubungan. anda perlu beberapa cara untuk menjelaskan hal ini dengan anda relasi Anda. Anda perlu strategi untuk keluar dari hubungan yang anda tidak lagi menemukan kepuasan atau menguntungkan. Ada lima strategi yang disajikan dibawah ini (1982). Ketika anda membaca daftar, perlu dicatat bahwa strategi tergantung pada tujuan anda. Mialnya, Anda akan lebih cenderung tetap jika anda menggunakan de-eskalasi dari pada jika anda menggunakan pembenaran atau penghindaran (Bank, Altdorf, Swiss, Greene & amp; cody, 1987).
1.      Penggunaan nada positif untuk memelihara hubungan dan untuk mengekspresikan perasaan positif untuk orang lain, ‘aku benar-benar sangat peduli untuk anda, tapi aku tidak siap untuk tidak siap untuk sebuah hubungan intens’. Cara ini tidak digunakan oleh Adi karena tidak ada nada positif atas tindakannnya untuk menyelesaikan hubungan dengan Sobur.
2.      Manajemen identitas negatif untuk menyalahkan orang lain untuk perpisahan dan untuk membebaskan diri.  Cara ini jelas merepresantasikan apa yang dilakukan Adi. Menyampaikan semua hal negatif yang diketahuinya bahkan semua hal-hal yang membuatnya merasa dirugikan kepada media.
3.      Pembenaran untuk memberikan alasan untuk putus. Pembenaran yang dilakukan oleh Adi yaitu menyampaikan fakta-fakta bahwa ajaran-ajaran Sobur merupakan penyimpangan sehingga Adi merasa bersyukur keluar dari pengaruh Sobur.
4.      Perilaku kemungkinan untuk merugikan intensitas hubungan. sebagai contoh, anda mungkin menghindari orang lain, mengurangi panggilan telepon. Dalam kasus ini, Adi memang sudah tidak berkomunikasi lagi secara langsung dengan Sobur baik via telepon maupun yang lainnya. Tetapi, pihak Adi, yakni istrinya menantang Sobur untuk mengklarifikasi sendiri pada media jika yang dilakukan Adi salah. Namun, sampai saat ini, Sobur hanya mengirim pengacara dan beberapa artis yang menurut Adi masih menjadi pengikut Sobur untuk berbicara kepada media.

     


Peran dan Fungsi Komunikasi dalam Organisasi

à Peran Komunikasi dalam Organisasi
Sebagai makhluk sosial, setiap manusia senantiasa berinteraksi dengan manusia lainnya, bahkan cenderung hidup berkelompok atau berorganisasi untuk mencapai tujuan bersama yang tidak mungkin dicapai bila ia sendiri. Interaksi dan kerja sama ini akan terus berkembang dengan teratur sehingga membentuk wadah yang disebut dengan organisasi. Interaksi atau hubungan antar individu-individu dan kelompok/tim dalam setiap organisasi akan memunculkan harapan-harapan. Harapan ini kemudian akan menimbulkan peranan-peranan tertentu yang harus diemban oleh masing-masing individu untuk mewujudkan visi, misi, dan tujuan organisasi/kelompok. Sebuah organisasi memang dibentuk sebagai wadah yang didalamnya berkumpul sejumlah orang yang menjalankan serangkaian aktivitas tertentu secara teratur guna tercapainya tujuan yang telah disepakati bersama. Terlebih dalam kehidupan masyarakat modern, manusia merasa bahwa selain mengatur dirinya sendiri, ia juga perlu mengatur lingkungannya, memelihara ketertiban, mengelola dan mengontrolnya lewat serangkaian aktifitas yang kita kenal dengan manajemen dan organisasi. William (1956) menyebutnya dengan istilah “The Organisation Man”.
Dalam setiap organisasi yang diisi oleh sumber daya manusia, ada yang berperan sebagai pemimpin, dan sebagian besar lainnya berperan sebagai anggota/karyawan. Semua orang yang terlibat dalam organisasi tersebut akan melakukan komunikasi. Tidak ada organisasi tanpa komunikasi, karena komunikasi merupakan bagian integral dari organisasi. Komunikasi ibarat sistem yang menghubungkan antar orang, antar bagian dalam organisasi, atau sebagai aliran yang mampu membangkitkan kinerja orang-orang yang terlibat di dalam organisasi tersebut. Efektivitas organisasi terletak pada efektivitas Komunikasi, sebab komunikasi itu penting untuk menghasilkan pemahaman yang sama antara pengirim informasi dengan penerima informasi pada semua tingkatan/level dalam organisasi. Selain itu komunikasi juga berperan untuk membangun iklim organisasi yang pada akhirnya dapat mempengaruhi efisiensi dan produktivitas organisasi.
à Fungsi Komunikasi Organisasi
Harold Koontz menjelaskan, keberadaan komunikasi dalam organisasi atau perusahaan adalah sebagai aktivitas yang terorganisir (Organized activity is unified). Selanjutnya ditegaskan fungsi komunikasi dalam organisasi adalah merubah perilaku (Behavior is modified), yang diakibatkan oleh penyampaian informasi yang produktif, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pandangan lain menyebutkan berbicara mengenai fungsi komunikasi dalam organisasi yaitu :  Fungsi Berdasarkan Tingkatan Organisasi, a. Manajer-Subordinasi b. Subordinasi c. Subordinasi-Manajer .


berbagai kegiatan organisasi dan manajemen yang terkait dengan komunikasi

à Dalam organisasi terdapat berbagai jenis kegiatan manajemen yang terkait komunikasi. Diantaranya:
·         Planning: Suatu tujuan atau misi yang akan dicapai oleh organisasi terlebih dahulu dirumuskan dalam sebuah perencanaan. Berbagai rencana yang akan dilakukan biasanya dikemukakan dalam sebuah rapat. Sehingga, para anggota dapat mengetahui apa saja yang akan merka lakukan. Rapat tersebut termasuk jenis komunikasi kelompok kecil.
·         Organizing: Setelah rapat dilakukan maka tiap kepala divisi biasanya menyusun secara rinci pembagian tugas untuk dilakukan oleh bawahannya. Di sini bisa berlangsung komunikasi antar pribadi jika pesan disampaikan berantai.
·         Actuating: Komunikasi antar pribadi banyak terjadi dalam pelaksanaan suatu kegiatan. Individu-individu melaksanakan tugasnya masng-masing kemudian menkoordinasikannya kepada sesama bawahan ataupun kepada atasan.
·         Controlling: Pelaksanaan suatu kegiatan biasanya selalu dalam pengawasan pimpinan. Di sini juga terjadi komunikasi antar pribadi yang intens antara pimpinan dengan kepala sub divisi untuk memantau sejauhmana pelaksanaan suatu misi.

·         Evaluating: Setelah suatu kegiatan berlangung, maka ada suatu penilaian dari pimpinan untuk mengevaluasi hasil kegiatan. Hal ini dilakukan untuk dapat memastikan apakah kegiatan sudah berlangsung sesuai target atau tidak, ataupun membahasa berbagai hambatan atau kesulitan yang telah terjadi untuk menjadi bahan pertimbangan dalam melakukan kegiatan-kegiatan selanjutnya. Evalusi ini juga biasa berlangsung dalam bentuk komunikasi kelopok kecil, dimana penanggung jawab masing-masing divisi dikumpulkan dalam sebuah rapat dan melaporkan pencapaiannya masing-masing.

Definisi Komunikasi Organisasi

  • ·         Menurut Redding dan Sanborn (dalam Muhammad Arni, 2004: 65) mengatakan bahwa komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan informasi dalam organisasi yang komplek.
  • ·   Wursanto mengartikan komunikasi organisasi ialah suatu proses penyampaian informasi, ide-ide diantara para anggota organisasi secara timbal-balik dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan (2005:158).
  • ·  R. Wayne Pace dan Don F. Faules (2001:31-33) Komunikasi organisasi adalah prilaku pengorganisasiaan yang terjadi atau bagaimana mereka yang terlibat dalam prose situ bertransaksi dan memberi makna atas apa yang sedang terjadi. Dan lebih jelasnya Komunikasi Organisasi adalah proses penciptaan makna atas interaksi yang menciptakan, memelihara dan mengubah suatu organisasi.

Definisi Organisasi dalam perspektif klasik (objektif), perspektif transisional dan perspektif mutakhir (subjektif)

à Perspektif klasik (Objektif) :
             “Organisasi adalah suatu koordinasi rasional kegiatan sejumlah orang untuk mencapai tujuan umum melalui pembagian pekerjaan dan fungsi lewat hirarki otoritas dan tanggungjawab” (Schein).
“Organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan manajer mengejar tujuan bersama” (Stoner).
“Organisasi merupakan sebuah bentuk rational-legal system dari sebuah struktur dan proses yang menggambarkan rancangan aktivitas tertentu untuk mencapai tujuan tertentu pula (disebut birokrasi)” (Max Weber)
à Perspektif Transisional:
“Organisasi adalah perpaduan secara sistematis daripada bagian-bagian yang saling ketergantungan/berkaitan untuk membentuk suatu kesatuan yang bulat melalui kewenangan, koordinasi dan pengawasan dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditentukan” (Dimock)
“Organisasi adalah perserikatan orang-orang yang masing-masing diberi peranan tertentu dalam suatu sistem kerja dan pembagian kerja dalam mana pekerjaan itu diperinci menjadi tugas-tugas, dibagikan diantara pemegang peranan dan kemudian digabung ke dalam beberapa bentuk hasil” (Cyril Soffer).
“Organisasi adalah suatu proses identifikasi dan pembentukan serta pengelompokan kerja, mendefinisikan dan mendelegasikan wewenang maupun tanggung jawab dan menetapkan hubungan - hubungan dengan maksud untuk memungkinkan orang-orang bekerjasama secara efektif dalam menuju tujuan yang ditetapkan” (Allen).
à Perspektif Mutakhir (Subjektif):
“Organisasi di mana orang-orangnya secara terus-menerus mengembangkan kapasitasnya guna menciptakan hasil yang benar-benar mereka inginkan, di mana pola-pola berpikir baru dan berkembang dipupuk, di mana aspirasi kelompok diberi kebebasan, dan di mana orang-orang secara terus-menerus belajar mempelajari (learning to learn) sesuatu secara bersama” (Peter Senge).
“Organisasi sebagai entitas sosial yang diatur oleh tujuan, didesain secara sengaja berupa sistem aktivitas yang terstruktur dan terkoordinasi, dan berhubungan dengan lingkungan eksternalnya. Bagi Daft, organisasi tidak dibangun oleh seperangkat aturan dan prosedur, melainkan oleh orang serta hubungan antara mereka dengan orang lainnya” (Richard L. Daft).

“Organisasi adalah “integrasi impersonal dan sangat rasional atas sejumlah spesialis yang bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah disepakati” (Victor A Thompson)

d'SwEEt piNk